PUCUK DIANTARA SALAK I, SADLE, SALAK II DAN HALIMUN



Dalam asa yang membungbung jauh menerawang angkasa
Diantara hingar bingar kehidupan kota
Mencari jejak sang legenda-legenda
Menguak keagungan sang pencipta
Mahasiswa pecinta alam memang manusia biasa
Tak ada hal yang istimewa
Tapi mereka mempunyai kebebasan
Kebebasan yang menjadikan mereka liar
Liar untuk mencari ilmu di alam bebas
Liar dalam menantang hidup
Liar dalam pengabdian pada alam
Pencinta alam ,
Adalah aku dan semua sodaraku.
Pecinta alam adalah kita.
Lawalata
Selalu jaya!! ( via mardiana )
Hingar bingar kehidupan kota sebentar lagi akan kami tinggalkan. Besok pagi kami akan masuk kedalam kehidupan yang dimensinya tidak dapat diprediksi, ya, alam bebas. Bicara soal alam bebas, bagi sebagian orang mungkin merupakan sesuatu yang sangat menakutkan, namun, bagi kami ( calon mahasiswa pecinta alam ) alam bebas merupakan sarana untuk belajar. Ya, belajar apapun. Masa karantina telah kami lewati dengan sayatan-sayatan indah yang tergores diotak. Entah itu rasa senang, sedih, galau, dan semua perasaan yang menyatukan kami sebagai anggota MPCA Lawalata. Besok pagi, aku dan kesebelas sodaraku akan memulai Studi Lapangan Kecil sebagai syarat untuk menjadi anggota Muda Lawalata- IPB.
Pagi itu, tanggal 28 januari 2012 sekitar pukul 08.00 kami berangkat menuju curug nangka dari gedung PKM. Sempat ada keraguan untuk masuk mobil, namun, keraguan itu cepat hilang dengan sendirinya. Tetapi jujur saja, kami berangkat tanpa cebeg. Ya, sosok cebeg tidak dapat ikut SLK karena alasan medis. Pasukan kami kurang satu personel. Tapi tak apalah, toh itu untuk kebaikan cebeg juga. Ditengah perjalanan, kami tidak banyak bicara, kami hanya diam dan tidur. Ya, tidur. Sesuatu yang sangat mahal ketika karantina, rasanya untuk memejamkan mata saja susah karena kami masih harus bergelut dengan tugas-tugas yang diberikan senior. Kami sampai di sebuah kampung menuju curug nangka sekitar pukul 09.45. Istirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan menuju salak II . Kami tidak melakuan orientasi medan terlebih dahulu, karena terlalu lama* ( *kata senior ). Perjalanan pun kami mulai dengan ucapan basmalah. Kami melangkahkan kaki, menyusuri jalanan berbatu. Tiba di dua jalan yang berbeda, kami bingung , namun, kata senior jalan saja . Ya, kami kembali berjalan. Selama perjalanan kami terfokus pada salak II, pasalnya kami belum pernah pergi kesana. Ya, salak II. Ditengah perjalanan kami mengambil beberapa sayuran yang akan kami makan ( jujur saja, kami kekurangan makanan yang berserat- jadi senior menyarankan kami untuk mengambil sayuran seperti pakis yang kami temui disamping kanan-kiri kami berjalan ). Lalu, kami menyebrang sungai kecil dan juga mengambil air untuk persediaan. Hari sudah mulai sore, namun, kami belum sampai juga di puncak salak II. Sampai matahari menenggelamkan dirinya, kami belum juga sampai di puncak salak II. Udara dingin memaksa kami menarik kedua tangan ke dada, namun, tetap saja angin yang berhembus terlalu kencang membuat kami merasa kedinginan. Sayangnya lagi, sodara kami , tole, malah pingsan. Rasanya kacau. Apalagi ketika cariel tole harus dibawa oleh salah satu dari kami, ( ya memang hanya anak laki-laki saya yang ‘berhak’ membawa cariel ). Jalan menuju salak II, cukup sulit apalagi kita berjalan di malam hari sehingga membutuhkan penglihatan yang sangat tajam untuk meminimalisasi kejadian yang tidak diinginkan. Disitu, kami memahami akan pentingnya keberadaan senter. Ya, sebagai penerang. Jadi ingat apa yang dikatakan bang gonjes, ‘jika kita bermain-main dengan korek dan senter, maka kita juga bermain-main dengan nyawa kita sendiri’. Ya, keberadaan senter sangat menolong kami. Intinya, PJM itu bukan hanya formalitas , tetapi juga kebutuhan yang menunjang kita dalam melakukan kegiatan ini. Capek, itu yang kami rasakan. Tapi kami tidak boleh menyerah begitu saja pada diri sendiri, apalagi menyerah pada alam, itu bukan mental seorang pecinta alam. Kami terus pacu kecepatan agar secepat mungkin bisa sampai di puncak salak II. Semakin kita sering bergerak, rasa dingin yang kita rasakan juga akan hilang dengan sendirinya. Tidak tepat pukul 22.00 kami sampai di puncak. Udara dingin menyeruak memasuki rongga hidung kami. Dingin. Dingin sekali. Kami berada diketinggian 2180 mdpl. Kami membuat bivoac, sebelumnya kami memasak terlebih dahulu. Lalu tidur.
Hari kedua, tanggal 29 januari 2012. Setela sarapan, kami melakukan pemanasan. Pemanasan sangat diperlukan, agar tidak terjadi cedera ketika kita melakukan aktifitas, apalagi aktifitas yang akan kami lakukan hari ini, yaitu, menyebrang sadle . Sadle adalah dataran yang menghubungkan dua puncakan. Dan jalur sadle puncak salak II-salak I itu baru dirintis pada tahun 2010 ( itu aku tahu dari kertas yang aku temui disepanjang perjalanan di sadle ) . Satu kata yang dapat kusampaikan ketika pertama kali melihat jalan ke bawah adalah , “outstanding” . Sebenarnya takut, tapi apa hendak dikata? Ini jalan yang akan mengantarkan kita kembali pulang juga. Medannya sangat sulit. Jalan menurun, dan licin mewarnai langkah kami melewati sadle ini. Sial, ceplong terjatuh cukup jauh. Kepalanya membentur kayu dan kacamatanya pecah, alhasil ia ketakutan dan tidak mau melanjutkan perjalanan. Untung saja, uye berhasil mengajak ceplong untuk turun, ya tentunya dibantu. Ditambah cariel topbir juga masuk jurang. Tampaknya langit tidak akan bersahabat lagi. Hujan mulai turun sedangkan kami masih dalam perjalanan, dan itu pun kami tidak tahu seberapa jauh lagi kami akan melangkahkan kaki hingga sampai di salak I. Kami mencoba berteriak, tapi malah ditegur oleh kakak senior padahal sebenarnya kami hanya ingin menghangatkan badan. Kedinginan melanda kami, jalan yang licin menghadang kami, hujan seolah-olah melarang kami untuk sampai lebih cepat ke salak I. Setiap kali berhenti kami harus berdekatan dan membuka ponco. Kami menunggu barisan rapat terlebih dahulu, baru mulai lagi berjalan. Setelah rapat, aku, amput dan oge kembali melipat ponco dan melanjutkan perjalanan. Sial, usaha kami untuk segera sampai di salak I tidak diizinkan oleh keadaan. Kami mengambil keputusan untuk camp di sadle. Dan itu resikonya sangat besar, tapi apa hendak dikata. Bila melanjutkan perjalanan itu tidak akan bisa apalagi banyak yang collapse termasuk aku. Magg ku kambuh dan aku merepotkan sodaraku ( thanks a lot ) . Kami terpaksa tidur didataran yang lebarnya kurang dari satu meter, kanan dan kiri kami menganga jurang yang siap memangsa setiap saat. Suasana semakin mencekam, aku ingat duduk dalam pelukan topbir. Tiba-tiba topbir ingin buang air kecil, sebenarnya oge sudah melarangnya tetapi topbir sudah tidak kuat menahan lagi, hasilnya beberapa langkah ia berjalan ia malah terjatuh ke jurang. Untung saja topbir tidak mengalami cedera yang serius walaupun keesokan harinya topbir merasa kakinya sakit dan ia harus memakai tongkat. Beratapkan ponco kami tidur , namun, aku tidak bisa tidur termasuk ketujuh sodaraku. Oya, kami terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok satu, aku, amput, oge, gumoh, topbir, bonceng, uye, tole. Sedangkan kelompok dua, cenges, pakcoy, pongah dan ceplong. Subhanallah, sensasi diam diantara dua jurang yang tidak akan kulupakan. Sungguh, medannya sangat sulit. Suhu encapai 12 derajat, dan salah satu senior berkata bahwa puncaknya akan terjadi pada pukul 02.00. Masih dalam pelukan topbir, aku merasakan kedinginan. Kalau tidak salah oge membantu mengganti kaus kaki, dan kak embang menghidupkan parafin untuk membantuku menghangatkan badan.  
Hari ketiga. Sungguh mengagetkan, ternyata tanah yang berada disamping kami longsor tadi malam. Sekitar pukul 12.00, kami dievakuasi terlebih dahulu ke bawah, dimana kami dipersilakan untuk memasak untuk mempersiapkan perjalanan yang akan kami mulai pukul 14.00 kata kak syukra. Dingin, itu yang kami rasakan. Baju yang kami pakai basah, bahkan yang lebih miris beberapa barang kami masuk jurang sehingga memaksa uye untuk mengambilnya. Semuanya menarik tangan kedada, saling mendekatkan badan. Aku menyeduh kopi lalu membagikannya kepada yang lain. Sungguh nikmat. Hujan kembali turun. Tetapi kami harus segera melanjutkan perjalanan. Awalnya bonceng yang naik pertama, diikuti oleh gumoh, lalu aku. Semua perempuan sudah ada diatas, sekarang giliran cariel yang harus kami angkut ke atas. Dengan bantuan webbing, kami menarik cariel yang berat karena basah. Lalu salah satu senior yaitu kak benni datang dan menyuruh kami cepat-cepat naik keatas dan meninggalkan cariel. Akhirnya kami ( MPCA wanita ) melanjutkan perjalanan menuju puncak salak I. Berjalan tanpa cariel ternyata merupakan suatu kenikmatan, pasalnya kami bisa berjalan lebih cepat tanpa beban. Sekitar 15 menit kami sudah sampai di puncak salak I. Kami disuruh memasak. Sedikitnya kami merasa senang karena bisa istirahat untuk sejenak. Namun, tidak begitu bagi laki-laki, pasalnya ia harus kembali besok pagi untuk mengambil cariel yang tersisa dibawah. Malam harinya, kami merasakan udara yang dingin lagi. Bahkan amput ‘collapse’ lagi. Lalu senior kembali memberi kami makanan. Dan saat itu pula aku juga ‘collapse’. Dingin, itu yang sulit aku tahan. Aku sadar hanya pongah dan topbir yang saat itu masih sehat. Sehingga mereka pula yang harus kerja keras untuk menjaga yang ‘collapse’.
Hari keempat, 31 januari 2012. Pagi harinya, laki-laki mengambil cariel yang masih tersisa dibawah. Sedangkan kami ( kaum wanita ) memasak. Senior memberitahukan bahwa kita akan melanjutkan perjalanan pada pukul 10.00. Namun, kami tidak berangkat pukul 10.00 itu karena keterlambatan kami. Apalagi ketika menunggu kaum laki-laki, ditambah packing yang menurut kami masih memerlukan waktu yang cukup lama tapi senior memberikan kami waktu yang tak lama sehingga jujur saja kami packing dengan cepat namuntidak tepat. Pukul 12.00 kami harus segera turun. Ya, intinya kami harus berjalan cepat untuk menghindari camp dijalan. Aku ingat kak faisal berkata, “kalian goblok kalau gak bisa nyampe !”. Dalam waktu 2 jam kami harus segera sampai di HM 25. Kami akui kami ‘lelet’ sehingga untuk mencapai HM 25 saja kami membutuhkan waktu yang lebih dari 2 jam. Sekitar pukul 15.30 , kami istirahat dibawah rintik hujan dan membayar sebagian hutang kami. Pembayaran hutang dilakukan setelah kami makan terlebih dahulu. Kami push up diatas lumpur yang mengotori baju kami yang basah. Kami diberi waktu 45 menit untuk memasak. Setelah selesai kami kembali melanjutkan perjalanan. Kami diharuskan sampai ke HM 0 secepat mungkin. Sial lagi, kami tidak bisa secepat yang diharapkan kakak senior. Banyak hal yang terjadi selama perjalanan menuju bajuri. Disitu, emosi kami semua meledak, sulit dikontrol. Semua orang bicara mempertahankan argumennya masing-masing. Ceplong kembali jatuh, ia harus dituntun untuk melewati jalan yang memang cukup sulit karena malam dan juga kubangan lumpur yang cukup dalam. Terkadang beberapa kali kita harus berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga untuk menarik kaki yang masuk kedalam kubangan lumpur. Ditambah bonceng yang terpaksa kami tinggal karena ia demam. Sebelum sampai ke bajuri kami bertemu dengan kak dafi dan kak fadlan. Mereka terus menyemangati kami dan mengatakan bahwa jalannya sebentar lagi. Alhsil kami sampai, namun, bonceng dn uye tertinggal. Disitu, topbir, ceplong dan pongah sakit. Kami kembali merasakan ganasnya alam. Dingin. Beruntung, kakak senior memberikan kami bubur dan kami pun makan. Aku dan tole mencari air karena kami kehabisan air. Tidak lama kemudian, pakcoy dan cenges datang. Kami berbaris, lalu 3 orang diantara kami , yaitu pakcoy, oge dan cenges harus kembali ke HM 8 untuk menjemput bonceng. Tanpa pikir panjang mereka segera kembali ke HM 8. Mereka harus bergerak cepat karena pukul 24.00 kami akan kembali melajutkan perjalanan, sedangkan ketika mereka berangkat waktu menunjukan 22.40. Sesekali aku menengadahkan kepala ke langit. Betapa indah karuni Allah yang telah diberikan kepadaku, tidak percaya tadi pagi dan kemarin sore kami sudah melewati gunung yang menurut orang susah untuk didaki. Cukup lama kami menunggu kaum laki-laki turun, dan akhirnya kami melihat batang hidung mereka. Terlihat bonceng sangat lemas sekali. Lalu kami memberikan makanan yang tadi diberi oleh senior kepada mereka. Kami harus segera fit agar perjalanan tidak kembali terhambat. Kami akan menemui jalanan yang berbatu dan itu sekitar 5 kilometer dan sisanya jalan aspal. Mendengar itu semangat kami kembali terpacu, orientasi kami tertuju pada istirahat semakin cepat kami sampai maka kami akan cepat untuk istirahat. Kami memeulai perjalanan kembali, ternyata benar jalannya memang tidak sulit, ini hanya jalan berbatu saja kami harus cepat sampai. Tak lama kemudian kami sampai juga di lokasi seperti lapangan dan cukup luas, dan ternyata dari situ terbentang jalan aspal yang kami harapkan dari tadi. Kami harus berjalan beberapa menit lagi . Dan akhirnya kami sampai di cidahu. Senior menyuruh kami segera membuat bivak. Namun, mungkin karena terlalu caek sehingga kami malah duduk-duduk diantara tumpukan cariel alhasil tamparan keras pun mendarat dipipi kami. Tamparan yang didaratkan kak beni membangunkan kami dari kemalasan. Tapi sungguh, saat itu kami merasakan tubuh kami capek . Kami segera membuat bivak, semuanya bekerja tanpa terkecuali. Siraman air tidak luput mengenai wajah kami. Kami harus membongkar bivak kembali karena ternyata didalam bivak ada bekas pohon yang ditebang. Tanpa pikir panjang kami mengerjakan bivak dan akhirnya selesai. Ada yang memasak diluar, dan aku memilih untuk tidur.
Hari kelima, 1 februari 2012. Pagi hari kami sudah bangun, kami segera membereskan barang-barang yang semalam belum sempat kami bereskan semua. Kami memasak sekitar pukul 07.00. Lalu, packing kembali. Sekitar pukul 08.00, kami melihat ada mobil TNI yang mengangkut sebagian senior. Kami melihat merekapun memberskan cariel-cariel. Oya, aku lupa. Malam hari sebelum keberangkatan konsumsi kami bagi 2. Dan pada hari kelima ini kami berhak mengambil sisanya, sebenarnya waktu kami mengambil konsumsi adalah kemarin namun, lagi-lagi karena kesalahan kami yang selalu lelet, akhirnya konsumsi pun diambil tidak tepat pada waktunya. Setelah pemanasan, kami turun kebawah dan disuruh membuka sepatu. Oya, kutu air. Itu adalah penyakit yang kami takutkan, pasalnya kutu air dapat menghambat perjalanan kita juga. Setelah semua dibua, senior memeriksa kaki kami dan ternyata cenges dan pakcoy terjangkit kutu air. Mereka disuruh membersihkan terlebih dahulu dengan alkohol. Sisanya juga mengobati luka-lukanya masing. Tangan kami peuh dengan luka-luka akibat duri yang kami temui selama perjalanan. Setelah selesai mengobati luka, kami menaikkan cariel ke dalam mobil lalu diikuti oleh kami. Dan kami pun berangkat menuju kampung cirasamala sekitar pukul 14.00 . Tidak banyak cerita ketika dimobil, karena aku pun tertidur lelap. Yang kurasa perjalanannya cukup lama. Akhirnya kami sampai juga disebuah kampung, tetapi bukan kampung cirasamala karena untuk sampai di cirasamala kami masih harus berjalan beberapa menit lagi. Setelah menurunkan cariel kami orientasi medan terlebih dahulu bersama kak embang. Setelah itu kami disuruh berjalan terlebih dahulu dan mencari tempat untuk camp. Kami berjalan tidak terlalu jauh, namun jalannya menanjak sehingga kami harus mengencangkan cariel . Sepanjang perjalanan aku melihat begitu asrinya desa ini, berada dikaki gunung halimun, sawah-sawah yang terbentang bak permadani, gemercik air yang mengalir di selokan kecil samping kanan dan kiriku. Rumah-rumah yang tidak begitu mewah namun aku dapat merasakan kehangatan didalamnya. Sungguh, pemandangan yang jarang kutemui. Ini benar-benar desa. Setiap kali kami bertemu dengan penduduk setempat kami merasa diterima oleh mereka, mereka tidak absen menyapa dengan ramahnya, bahkan beberapa ada yang memberikan kami makanan. Awalnya kami akan camp disebuah kebun yang dekat dengan rumah warga namun, senior menyuruh kami untuk mencari tempat yang lebih layak. Akhirnya kami melanjutkan kembali perjalanan, kembali melewati sawah dan selokan-selokan kecil. Aku lama kemudian kami menemukan tempat yang cocok untuk tempat kami istirahat. Kami dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok satu, cenges,topbir, ceplong,amput,uye,gumoh. Sedangkan kelompok dua, aku ( pucuk), pongah, oge, pakcoy, bonceng dan tole. Sesampainya dilokasi camp, kami memasak terlebih dahulu. Lalu kami istirahat. Sebenarnya hari itu adalah jatah kami untuk istirahat full, dalam artian tidak ada perjalanan, namun, lagi-lagi karena kami ‘lelet’ kami harus mengambil konsekuensinya. Setelah tu kami dikumpulkan oleh kak embang untuk melakukan orientasi medan. Kami membuka peta dan mencocokannya dengan lokasi dimana kami berada saat itu. Dengan menggunakna kompas bidik pakcoy dan bonceng mencoba membdidik gunung kendeng. Ditempat camp tersebut kami berkesempatan untuk mengeringkan baju, sarung bag, dan semua yang basah karena hujan.  Aku bersama pongah membuat tempat jemuran sederhana menggunakan tali mapala setelah selesai menjemur aku memberskan cariel dan masuk ke dalam bivak. Ternyata didalam bivak ada bonceng, ia kembali demam dan menurutku demamnya dikarea ada pembengkakan pada kakinya. Satu hal yang lucu, ternyata uye bisa mengesol sepatu. Dengan penerangan seadaya dari senter uye berahsil mengembalikan bentuk sepatu pongah yang sebelumnya tidak karuan. Hari sudah mulai malam dan kami pun beristirahat dibivak. Beralaskan matras dan berdindingkan ponco. Tidur.
Hari keenam, tanggal 02 februari 2012. Kami akan memulai lagi perjalanan. Sekarang tujuannya adalah puncak halimun diketinggian 1800 mdpl. Menurut kak embang, memang jarang sekali orang yang mendaki halimun, namun, jalur ini merupakan jalur yang dipakai juga oleh salah satu mapala yaitu TRISAKTI dalam proses pembinaan juga. Sebelum berangkat, kami harus membayar hutang terlebih dahulu disamping tenda senior. Setelah membayar hutang kami segera melangkahkan kaki menuju puncak halimun. Sekitar pukul 10.00 kami berangkat. Suasana bahagia mewarnai perjalanan kami, kami menyanyi bersama dipimpin oleh pakcoy. Lalu kami beristirahat diketinggian 1600 mdpl ( kalau tidak salah ) untuk mengambil air. Lalu kami memasak. Sial lagi, ceplong menyenggol sarang tawon. Ia disengat tawon, lalu menyusul pongah, dan aku. Lalu amput, oge, gumoh. Tawon itu mampu membuat kami kalang kabut. Dengan menahan rasa sakit, aku berjalan menyusuri tanjakan menuju puncak halimun. Karena melihat kondisi amput, gumoh, ceplong yang tidak akan baik jika melanjutkan saat itu kami bersitirahat sejenak. Kami mencoba menghubungi senior tai tidak dijawab.baru setelah beberapa kali mencoba akhirnya dijawab dan kami disuruh kembali melanjutkan perjalanan. Hujan pun turun, kami membuka ponco. Akhirnya sekitar  pukul 15.50 kami sampai di puncak halimun. Lega rasanya. Kami segera membuat bivak. Lalu senior datang, yaitu kak linda, kak fadlan, dan kak beni. Kami disuruh push up. Lalu sebagian mengumpulkan survival kit, golok dan p3k. Ada kejadian unik, syal ku terlepas dan kak linda melihatnya. Lalu aku ditarik ke depan disuruh merayap dan berjanji tidak akan mengulangnya lagi. Mantaps kak linda . ( hehe ) . sekarang kami praktek survival, aku merasakan dingin lagi. Ditambah baju dan celanaku semuanya kotor. Kami dibagi kelompok, aku bersama oge. Kami ditunjukan tempat untuk survival. Kami hanya diberi poco, golok, dan korek api. Sungguh, dingin. Oge menyuruhku untuk mengambil kayu dan dimulai dari situ aku merasakan sesuatu yang aneh. Namun, keanehan itu tertutupi oleh rasa dingin yang menyiksa. Jujur saja aku hanya melihat oge membuat bivak tanpa membantunya. Setelah selesai kami berteduh didalam bivak. Dan ketika kami akan membuat api ternyata didalam korek tabung tidak ada pemantiknya, terpaksa oge kembali untuk meminta pemantik dan pemantiknya malah jatuh dan basah. Tidak tamat, tapi kami harus menjaga agar suhu tubuh tetap stabil. Saat itu aku kembali merasakan sesuatu yang aneh. Aku ingat ketika menyuruh oge meniupkan peluit dan gelap. Menurut sodara-sodaraku tadi terjadi sesuatu yang aneh. Seperti yang kurasa sebelumnya. Tapi sudahlah, aku tidak ingin terlalu banyak membahas satu masalah itu. Bagaimanapun juga mungkin ini adalah pembelajaran bagi kita semua. Aku sadar ketika sudah dibivak. Namun, bayang-bayang itu masih jelas terlihat. Dan aku meminta pertolongan kak embang untuk menutup mata. Subahanallah, itu yang bisa aku katakan ketika mendengar cerita dari sodara-sodaraku. Sadar dan tidak sadar saat itu.
Hari ketujuh, 03 januari 2012. Aku terbangun. Puncak halimun. Kulihat sodara-sodaraku masih terlelap tidur. Hanya uye dan gumoh yang kulihat sudah bangun. Kak mila mencoba membangunkan kami. Kami disuruh memasak. Barang-barang kami semua diluar. Berantakan. Itu kondisinya. Aku memberskan barang-barangku yang berserakan diluar. Sedikit demi sedikit aku membereskannya. Aku masih merasa lemas akibat ‘pertarungan’ semalam. ( tidak usah aku ceritakan apa yang terjadi, dimensi yang berbeda memaksa kita untuk percaya bahwa ‘mereka’ hidup berdampingan dengan manusia. Jika mereka merasa terganggu mereka pun akan memberitahu manusia dengan cara mereka). Masakan sudah masak dan kami makan. Lapar sekali, itu yang kurasa. Dan senior memberikan kami ‘lagi’ makanan. Jadi ingat yang dikatakan kak faisal, “kalian ( kami ) adalah MPCA yang paling sering diberi makan oleh senior “. Kami segera turun menuju tempat camp 2 hari yang lalu. Dan diperjalanan, terjadi peristiwa yang menelisik pikiranku. Amput kembali kesurupan. Dan ketika kami menghubungi senior tidak ada jawaban. Singkatnya, aku merasa hal yang berbeda dalam diri amput. Dan aku tidak ingin berjalan bersama amput. Kami menyusuri jalanan yang tidak terlalu terjal, justru menurutku ini tidak begitu sulit. Namun, ternyata kami tersesat. Kami terlalu berjalan ke kanan dan jika kami harus kembali itu tidak mungkin karena hari sudah mulai sore . Pasalnya kami melewati 2 punggungan. Setelah berembuk kami istirahat sebentar disebuah gubuk, tadinya kami akan menginap disitu namun, aku bersikeras tidak mau menginap disitu karena pasti akan ada sesuatu yang tidak beres pada Amput yang memiliki hubungan denganku. Kami berjalan memasuki perkampungan, dan ternyata tidak terlalu jauh. Kami kembali ke jalan batu yang 2 hari yang lalu kami lewati . Karena sudah malam, kami tidak menginginkan untuk kembali ke tempat camp. Apalagi melihat kondisi amput. Lalu, salahsatu dari kami berinisiatif untuk meminta pertolongan pada warga setempat untuk mengobati amput. Denga berbekal keberanian, kami berhenti disebuah mushola. Kami meminta bantuan untuk mengajikan amput pada warga di desa tersebut. Aku kembali merasakan hal yang aneh, dan ternyata benar. Amput kembali kesurupan. Singkatnya, situasi saat itu mencekam. Kami dijamu oleh seorang bapak yang bernama pak Emang, kami tidur di rumah pak emang. Kami diberi makan dan diberi selimut. Baik sekali bapak itu. Tanpa pamrih beliau menolong kami, orang yang baru dikenalnya.
Hari kedelapan, tanggal 04 februari 2012. Kami diharuskan kembali ke tempat camp sebelum pukul 10.00. setelah pamitan kepada pak emang, kami segera ke tempat camp. Tak lama kemudian kami sampai ditempat camp. Kami disuruh istirahat terlebih dahulu. Aku tidak hafal tepat pukul berapa kami melanjutkan perjalanan ke desa pamengpeuk. Tapi kami disuruh berjalan terlebih dahulu dan senior menyusul. Medannya mudah untuk dilalui.sehingga kami dapat berjalan cepat. Ketika kami dihadapkan pada jalan yang bercabang kami tidak susah karena banyak penduduk sekitar yang juga ramah memberitahu kami. Namun, sayang aku kembali melihat sesuatu yang berbeda pada diri amput. Tapi, aku mencoba untuk diam saja. Jam menunjukan pukul 12.00 dan kami memutuskan untuk melakukan shalat dhuhur terlebih dahulu. Amput kembali sakit. Ia lemas. Kami menyuruh amput untuk shalat agar terhindar dari makhluk-makhluk yang membuatnya lemas. Beberapa meter ia berjalan ia tidak kuat. Lalu, aku , topbir, pakcoy, dan pongah yang berada di depan menunggu. Cukup lama, dan ketika amput mendekatiku aku benar-benar merasakan sesuatu yang dahsyat. Melihat kondisi amput kami segera mencari bantuan, untung saja tidak terlalu jauh dari lokasi ada rumah dan disitu amput ditolong. Rumah panggung itu menjadi saksi pertarungan dua dunia. ( haha ). Kami dijamu dengan makanan, seperti pisang, air teh dll. Ketika amput sedang ditangani oge mencoba menghubungi senior, dan senior menyuruh kami untuk diam saja terlebih dahulu diperkampungan itu. ( peristiwa itu kembali terulang ..... ). Aku sadar ketika hari sudah sore. Kak mila dan kak linda mengajakku solat ashar. Aku melihat amput sangat lemas sekali tampaknya. Hari kembali memasuki ranah malam, itu yang tidak aku suka. ( ada alasanya ) , sebisa mungkin aku menahan ‘hal itu’. Sodaraku mengajakku ke lantai dua di rumah itu, aku melihat mereka sedang bermain dengan kak linda. Aku hanya mengikuti permainan itu sebentar lalu makan. Aku tidak ingat tadi sudah makan atau belum. ( aku merasakan hal yang aneh ). Ketika aku sadar,aku melihat sodara-sodaraku mengelilingiku. Sungguh pemandangan yang kukira jarang ditemui di organisasi lain. Lalu aku kembali melanjutkan tidurku.
Hari kesembilan, 05 februari 2012. Sebenarnya kami harus kembali melakukan perjalanan ke desa pemengpeuk, namun, karena peristiwa yang terjadi pada amput dan juga aku , pihak senior membatalkan rencana perjalanan itu. Pukul 08.00 kami dikumpulkan oleh kak linda dan kak alam. Semuanya sedikit tegang, kami push up satu seri. Lalu kak linda memberitahukan bahwa prosesi pelantikan akan dilaksanakan hari itu di desa pasir erih. Kami semua berpandangan, ada perasaan kaget dan juga senang, tetapi perasaan kecewa juga kami rasakan. Pasalnya harapan kami dilantik di pelabuhan ratu tidak akan terjadi. Tapi tak apalah, yang penting semuanya baik-baik saja. Prosesi pelantikan akan dimulai sekitar pukul 09.00 dan kami harus segera makan berat. Namun sayang, aku dan amput tidak sempat makan banyak. Kami harus segera menuju lapangan, tetapi kami tidak menemukan lapangan yang dimaksud oleh senior. Kami mencoba bertanya pada enduduk setempat, dan kami diarahkan untuk berjalan terus melewati pematang sawah . sampai kami dibawah, ternyata lapangan itu tidak kami temukan. Kami mencoba mengecek ulang, tapi tetap saja kami tidak menemukan lapangan yang dimaksud. Akhirnya, salah satu senior mencari kami dan mengajak kami ke tempat yang dimaksud. Tampak ketegangan tergambar diwajah sodara-sodaraku. Kami kembali ditanya mengenai komitmen kami untuk Lawalata. Setiap orang harus menguraikan argumennya. Tidak lama dari itu, senior menyuruh kami berjalan ke arah yang berlawanan. Kami sampai disebuah jalan dimana kami dapat melihat hamparan sawah. Terlihat beberapa gubuk di bawah sana, dan kami harus segera sampai di salah satu gubuk tersebut dalam waktu 5 menit kata kak Linda. Mustahil memang, tapi apa boleh buat kami harus segera sampai ditempat itu. Setelah ada perdebatan kecil ketika menentukan jalan kami dengan langkah panjang menuju tempat yang ditunjukan oleh kak Linda tersebut. 15 menit kemudia kami baru sampai di lokasi. Kami bertemu dengan alumni yang disebut bang gonjes ( M Taufik Wahab ) , disana kami akan dikurangi hutangnya jika kami dapat melakukan instruksi yang diberikan oleh bang Gonjes dengan benar. Instruksinya mengenai packing. Kami diharuskan mendemonstrasikan bagaimana packing yang benar. Yang mendemonstrasikan adalah cenges. Pengepakan atau pacing adalah memasukan dan menata barang-barang yang sudah terdata dan pasti akan digunakan selama kegiatan kedalam ransel. Packing yang benar akan memeudahkan pengambilan barang saat diperlukan, embagi titik berat pada ransel dan menjaga keseimbangan ransel sehingga tidak terlalu terasa berat bila dibawa. Sebaliknya jika packing kita tidak benar maka akan berimbas juga pada kecepatan kita berjalan bahkan dapat menimbulkan cedera. Kami berhasil melakukan instruksinya dengan tepat sehingga hutang kami akan dikurangi. Instruksi yang kedua yaitu kami diharuskan membuat camp. Tanpa pikir panjang kami segera membuat camp ditempat yang tidak jauh dari tempat dimana kami dikumpulkan. Camp sendiri dibuat menggunakan flying sit, sehingga sangat mudah dan ponco dijadikan dindingnya. Setelah selesai kami sejenak beristirahat. Tiba-tiba senior memanggil kami. Saat itu ada kak ayu, kak alit, dan kak habib. Kami berbaris dan ada pergantian ketua. Pongah berkesempatan untuk memimpin kami melewati masa pembinaan ini. Kami diharuskan segera sampai ke sungai yang ada dibawah. Kami saling bertatapan, bagaimana mungkin? Sedangkan camp masih berdiri dengan kokohnya. Pongah segera menyemangati kami. “ayooooo”. Kami semua bekerja membongkar camp. Setelah selesai membongkar kami segera menuju tempat dimana akan terjadi proses ‘penggembelengan mental ‘. Akhirnya kami sampai. Aku melihat aliran sungai yang tidak terlalu besar. Kami harus merayap dialiran air tersebut. Aku merasa sesak, namun, aku mencoba menahannya karena tidak ingin membuat sodaraku kembali terbebani. Lalu cariel pun harus basah, alhasil cariel menjadi sangat berat. Kami kembali merayap, kami harus menahan kepala agar tidak masuk air namun, cariel yang ada dipunggung kami terlalu berat sehingga beberapa kali aku harus meminum air aliran tersebut. Kami terus merayap, aku merasa cipratan-ciparatan yang dilakukan oleh senior tepat diwajahku. Sampai pada belokan, salah seorang senior menarikku dan menyuruhku untuk naik. Namun, aku menjawab aku masih kuat untuk melanjutkannya. Hantaman keras mendarat dipunggungku, aku tersungkur. Tapi disinilah aku merasakan indahnya menjadi mahasiswa pecinta alam. ( hahaha ). Kak linda menarikku keatas . aku disuruh menyimpan cariel disitu dan berjalan ke atas mengikuti kak Linda. Ternyata Amput kambuh lagi dan penyebabnya adalah makhluk yang sama dengan yang sebelumnya. Aku melihat Amput meronta-ronta. Lucunya, saat itu aku sadar tapi berulang-ulang kak Linda menamparku ( mantap ),namun, tubuhku lemas. Aku disemangati oleh kak Linda untuk pergi ke atas. Ketika aku terjatuh kak Linda berteriak, “Pucuk, mau apa kau kesini?” aku menjawab, “Mau menjadi anggota Lawalata, Kak.”. “Kalau begitu kau harus kuat. Anak Lawalata tidak ada yang lemah, semuanya kuat!” kata Linda. Itulah kata-kata yang menjadi motivasiku untuk selalu kuat. Lalu aku kembali merasakan keanehan namun saat itu aku hanya merasa lemas aku masih bisa mengendalikan diri tanpa membuat orang lain kesusahan. Aku dipapah oleh kak Ode menuju tempat prosesi pelantikan, lagi-lagi adahal saat itu aku sadar tapi kak Ode menamparku dan tidak hanya satu kali, kenyang sekali aku dengan tamparannya. ( hahaha ). Akhirnya aku sampai di tempat prosesi pelantikan, aku melihat Tole memegang perut. Pasti dia sakit. Ya, ternyata asma dia kambuh lagi. Apalagi saat itu dia sedang diare. Aku dan Tole menunggu sodara yang lain. Dan tepat pukul 15.30, di pasir erih prosesi pelantikan anggota muda Lawalata pun dimulai. Kak Ayu membacakan susunan acara. Semua senior berbaris. Ada dua bendera yang berdiri di depan kami, yaitu bendera Lawalata dan bendera merah putih. Setelah menyanyikan Indonesia Raya dan Hymne IPB, berdasarkan surat keputusan, aku bersama 11 sodaraku dilantik menjadi anggota muda Lawalata-IPB. Akhirnya kami medapatkan syal kuning dan lencana. Senang, itu yang kurasakan. Akhirnya, perjuanganku dan sodara-sodaraku baru sedikit terbayar karena kami tidak mau hanya sekadar menjadi anggota muda tetapi akan menjadi anggota biasa Lawalata-IPB. Semuanya menjadi satu dalam perasaan senang. Setelah berfoto kami segera kembali ke desa terdekat. Aku merasakan suasana yang begitu akrab. Lawalata. Kami harus segera pulang karena truk sudah menunggu dibawah. Perlu berjalan beberapa kilo lagi agar sampai dijalan aspal. Akhirnya kami melihat truk yang akan membawa kami pulang. Setelah semuanya siap, kami kembali pulang ke kampus . Lawalata, menjadikan semuanya terasa bermakna. Semua rangkaian kegiatan SLK ini, akan terekam dengan apiknya didalam ingatanku, akan aku jaga hingga suatu saat aku dapat menceritakannya kepada teman-temanku, kegiatan yang menjadikan kami kuat, kegiatan yang menjadikan kami tidak bermental lemah, semuanya akan menjadi memori indah . itulah ceritaku, bersama sodara-sodaraku dibawah naungan Lawalata ! selamat tinggal, Halimun. Lawalata. Jaya . 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer